Archive for May, 2007

Waktu

Tuesday, May 15th, 2007

Rentang waktu…

terkadang membuat aku lupa

bahwa aku harus semakin dewasa

Rentang waktu…

terkadang membuat aku lupa

bahwa aku tlah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu…

terkadang membuat aku sadar

bahwa aku hanya manusia

yang tak punya apa-apa

selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu…

terkadang membuat aku sadar

bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa

melainkan hati yang ada di dalam dada

dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata

bahwa rentang waktu itu berbeda

tergantung dalam keadaan apa kita berada

Namun Tuhan telah berkata,

“Hanya Aku lah yang tahu umur manusia”

Walau Sekuler Barat berkata

bahwa waktu adalah dollar di dalam kantong

Namun Hasan Al-Banna berkata,

“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”

Waktu…

Alam terus menari dalam simfoninya

Waktu…

Umur manusia didikte olehnya

Waktu…

setiap detaknya

memakukan aku di persimpangan jalan

…jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…

semoga tak melalaikan aku

tuk terus berjalan di jalan-Nya

Persahabatan Menurut Pandangan Imam Syafi’i

Tuesday, May 15th, 2007

Imam Syafi’i banyak memberikan pedoman dalam memilih kawan. Beliau juga mengakui sulitnya mencari sahabat sejati yang setia dan selalu bersama, baik di kala suka maupun duka.

Ketika menilai sahabat sejati pada waktu susah, katanya: “Kawan yang tidak dapat dimanfaatkan ketika susah lebih mendekati musuh daripada sebagai kawan."

“Tidak ada yang abadi dan tidak ada kawan yang sejati kecuali yang menolong ketika susah.”

“Sepanjang hidup aku berjuang bersungguh-sungguh mencari sahabat sejati hingga pencarianku melenakanku."

“Kukunjungi seribu negara, namun tidak satu negara pun yang penduduknya berhati manusia.”

Imam Al-Syafi’i turut meminta kita berhati-hati memilih sahabat karena sahabat yang baik akan membawa ke arah kebaikan, begitu juga sebaliknya.

“Banyak orang lain yang dapat menjadi penggantinya. Berpisah dengannya berarti istirahat."

“Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadangkala dibalas dengan sikap tidak sopan."

“Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat karena dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai."

“Dia akan memungkiri jalinan cinta yang terbentuk dan akan menampakkan hal yang dulunya menjadi rahasia.”

"Seseorang itu juga dapat menundukkan musuhnya dengan menunjukkan rasa persahabatan."

Imam Syafi’i dalam hal ini berkata: “Ketika aku menjadi pemaaf dan tidak mempunyai rasa dengki, hatiku lega, jiwaku bebas daripada bara permusuhan."

Sanggup kah aku, ya…ROBB…Yang Maha Membolakbalikkan Hati…?

ini kah KEADILAN ?!

Monday, May 14th, 2007

What’s your opinion about this TRUE STORY…?

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.

Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak ke hadapan saya. Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.

Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan adzan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Agung, sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah Bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi.

Berita ini rupanya sampai di telinga Agung. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya. "Siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

"Gue, terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Agung pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

"Agung nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala Lapas yang ikut menemani saya mewawancarai Agung sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu, anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Agung menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Agung. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.

Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, Agung selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk Agung. Ia keluar penjara kedua kalinya.

Pelarian ketiganya dilakukan ala Mission Imposible. Agung yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.

Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Agung memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Agung.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya.

Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Agung yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Agung. Hasilnya dua hari kemudian Agung kembali lagi ke Lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

"Ibu kepala Agung minta maaf, tapi Agung kangen sama ibu Agung." Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung di penjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.

Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap Agung) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya Agung itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat.

Inikah yang namanya KEADILAN…?! Inikah cara untuk menSEJAHTERAkan rakyat…?!

From my cousin…dedicated then to all of my "Seniors".