Kisah Seorang Ayah dengan Anak Gadisnya

February 6th, 2008 by bunda-athira
Kisah
ini terjadi disuatu pagi yang cerah, yaaa…mungkin tidak begitu cerah
untuk seorang ayah yang sangat sibuk, yang kebetulan memeriksa kamar
putri-nya…

Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar
amplop bertuliskan "untuk ayah" di atas kasurnya… Perlahan dia mulai
membuka surat itu…

Ayah tercinta…


Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal.
Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia…ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat di tubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya.

Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua
(aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini.

Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan
membesarkannya bersama.

Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis
perdagangan extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa itu tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.

Aku tahu dia juga punya cewek lain tapi aku percaya dia
akan setia padaku dengan cara yang berbeda.

Ayah…jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15

tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku.

Salam sayang untuk kalian semua.


Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya
itu…


ps: Ayah…
tidak ada satupun dari yang aku tulis di atas itu benar, aku hanya
ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai
rapotku yg buruk. Kalau ayah sudah menandatangani rapotku di atas meja,
panggil aku ya…
Aku tidak ke mana2 saat ini aku ada di tetangga sebelah. 

Gimana ya kira2 perasaan si Ayah…???

a SMILE from a SMILE

June 11th, 2007 by bunda-athira

Tuluskah Senyumku Untukmu?

Apa yang akan Anda lakukan ketika berjumpa seseorang dengan sesungging senyum manis di lekuk bibirnya? Bandingkan reaksi Anda apabila orang yang dijumpai itu mengerutkan bibir dengan tatapan mata tajam. Tak ada ekspresi senyum sedikit pun di wajahnya. Hampir pasti akan muncul respons ber- beda untuk dua situasi tersebut.

Ekspresi di wajah seseorang berpengaruh langsung terhadap pola komunikasi dan bentuk interaksi sosial yang terjadi, termasuk ekspresi balasan yang ditampilkan kemudian.

Di gerbang tol Jatiwarna, Bekasi, misalnya, bagai oase saat memasuki antrean di salah satu gerbang tol. Saya juluki gerbang tol itu paling cerdas dari sekian banyak gerbang tol yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Gerbang pada ruas Jatiwarna ini adalah loket jalan keluar menuju salah satu taman wisata di timur Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Meski antrean kendaraan begitu panjang, petugas selalu proaktif mengambil kartu, menerima pembayaran, dan siap dengan uang kembali.

Dari segi waktu dan gerak (time and motion) terkesan efektif, efisien, dan optimal. Dalam hal jasa layanan, sapaan ramah dan senyum hangat melengkapi kecerdasan di gerbang itu. Senyum yang menghiasi wajah petugas plus ucapan “selamat jalan”, tentu menyejukkan hati, bukan?

Komunikasi Nonverbal
Senyum merupakan salah satu isyarat nonverbal atau gesture manusia dalam berkomunikasi. Penelitian yang dilakukan Leonard, Voeller, dan Kaldau (1991) menunjukkan di dalam setiap senyuman terjadi peningkatan pesan positif yang komunikatif.

Indonesia sebagai negeri yang konon dikenal dengan keramahtamahannya (entah masih berlaku atau tidak?), senyuman mungkin tak terlalu sulit ditemui. Namun, tentu bukan hal mudah mengetahui apakah senyuman yang terpampang di hadapan kita itu tulus atau dibuat-buat.

Diperlukan latihan dan pengamatan yang lebih seksama apabila kita mempunyai kebutuhan untuk membeda-bedakan senyum seseorang dalam komunikasi. Sebagai isyarat di dalam komunikasi nonverbal, sebuah senyuman setidaknya memiliki enam ciri sebagaimana konsep komunikasi nonverbal secara umum.

Pertama, ia hadir di mana-mana, sebab setiap komunikasi yang terjadi pasti membawa serta isyarat nonverbal.

Kedua, membentuk suatu sistem bahasa yang universal. Banyak orang percaya isyarat nonverbal, seperti senyuman, merupakan kode yang diakui dan dipahami secara mendunia.

Ketiga, dapat menciptakan salah pengertian sebagaimana juga saling mengerti antarmanusia. Makna sebuah senyuman dapat pula salah ditangkap orang lain.

Keempat, memiliki keunggulan khas dalam interaksi antarmanusia, sebab isyarat nonverbal berpengaruh kuat pada menit-menit pertama sebelum terlalu banyak kata-kata terlontar.

Kelima, dapat mengekspresikan berbagai hal tentang pikiran dan perasaan orang yang tak mampu disampaikan dengan kata-kata. Misalnya sesuatu yang terlalu kasar, apabila harus diucapkan, senyuman dengan ekspresi jijik mungkin lebih mudah dan cepat ditangkap. Keenam, dapat dipercaya merupakan ciri yang begitu kuat.

Orang mengatakan ekspresi adalah “jendela jiwa”, demikian halnya senyuman dengan berbagai bentuk dan maknanya dapat dipercaya sebagai penyampai pesan yang ampuh mengenai kedalaman jiwa seseorang.

Beberapa ahli psikologi klinis melakukan penelitian mengenai senyuman. Mereka adalah Ekman dan kawan-kawan, mempublikasikan hasil temuannya bahwa perbedaan beberapa bentuk senyuman yang tampil, juga membedakan apakah seseorang tersenyum tulus atau hanya berpura-pura demi menutup-nutupi perasaan yang sesungguhnya.

Senyuman tulus yang mengekspresikan isi hati yang gembira biasanya terjadi bersamaan dengan munculnya gerakan otot mata. Orang-orang yang mengekspresikan senyum dari hati yang tulus tentu saja didorong oleh perasaan bahagia dan gembira ketika ia melakukannya.

Sebaliknya, senyum yang terjadi hanya di bibir, yakni dengan lengkungan ke atas, sedikit atau banyak, tanpa disertai gerakan-gerakan aktif otot di seputar mata sering dihubungkan dengan ekspresi jijik. Bahkan juga kesedihan, ketakutan, kecemasan, meremehkan, sinis, ekspresi rasa iri, yang sering kali terdapat pada senyuman orang-orang yang memanipulasi perasaan negatifnya.

Senyum yang muncul sebagai ekspresi manipulasi perasaan merupakan topeng (mask). Bagi orang yang kurang peka atau tidak terlatih menangkap ekspresi nonverbal orang lain, mungkin saja sebuah senyuman dapat menyesatkan atau mengaburkan.

Akibatnya, kepura-puraan dalam interaksi sosial disebabkan pesan sosial yang tidak sampai tersebut, semakin tebal. Beberapa tahun lalu, tembang dari God Bless yang dilantunkan Ahmad Albar, lirik awalnya mengatakan, “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah…” cukup relevan menggambarkan kondisi dunia dan kehidupan manusia yang semakin diwarnai kepura-puraan.

Menyikapi keadaan dunia yang demikian, rasanya bisa pesimistis juga, jika setiap hari harus berhadapan dengan topeng-topeng wajah di sekeliling kita. Sementara kita membutuhkan nilai ketulusan pada ekspresi seseorang demi memperlancar pesan sosial dalam komunikasi.

Namun, marilah kita menghibur diri dengan pernyataan berikutnya dari Ekman dan kawan-kawan bahwa ekspresi wajah yang spontan (tidak sengaja) justru dapat mengungkapkan kebohongan atau kepura-puraan orang. Ekspresi seseorang, khususnya senyum yang menghiasi wajahnya, kadang-kadang dapat mendukung sikap kepura-puraannya atau justru menyingkap topeng pura-pura itu. Jadi, hati-hatilah memilih topeng.

Semakin sering menjumpai berbagai orang dengan berbagai topeng senyumannya, ditambah sedikit usaha meningkatkan kepekaan, kita dapat terampil menangkap senyum tulus atau pura-pura itu. Sekali lagi, senyuman yang tulus akan diikuti dengan gerakan aktif otot-otot di seputar mata.

Namun apabila ada orang yang tidak tersenyum jangan terlalu cepat dinilai tidak tulus. Sebab bisa saja otot wajahnya kaku, karena tidak terbiasa mengekspresikan perasaan. Atau ada pula orang-orang jaim (jaga image) yang menganggap senyum dapat menjatuhkan wibawa. Percayalah, ada orang seperti itu.

Ekspresi
Tidak perlu harus menjadi foto model atau selebriti untuk mengekspresikan senyuman di depan kamera, bukan? Jelas, senyuman memang mudah dibuat, dikondisikan, dan ditampilkan, demi mengakomodasi berbagai kepentingan.

Pencitraan perusahaan yang biasanya merupakan garapan bagian humas, banyak yang mencanangkan motto “senyum” sebagai salah satu kata kunci. Bahkan tak sedikit diangkat menjadi tagline iklan.

“Senyum dan sapa hangat kami senantiasa menyambut Anda sejak langkah pertama”, misalnya. Jika demikian, artinya senyum harus dilatih oleh setiap insan yang menjadi bagian organisasi tersebut. Apakah ini tergolong senyuman yang manipulatif?

Berpegang pada ciri-ciri senyuman tulus versi hasil penelitian, kita dapat mengembangkan pemahaman bahwa setiap orang bisa tersenyum. Namun, ada orang yang hanya “tersenyum di bibir” tapi “tidak tersenyum matanya”.

Dengan demikian pencanangan dan pelatihan “tersenyum” demi meningkatkan layanan dan produktivitas harus dikondisikan melalui iklim di dalam lingkungan organisasi.

Jangan harap orang bisa tersenyum tulus apabila hatinya tidak sungguh-sungguh gembira untuk mengekspresikan “senyum tulusku untukmu” tersebut.

Sebetulnya sederhana sekali, ketika orang-orang atau pekerja dalam sebuah organisasi merasa puas, senang, bersuka cita, dapat menikmati suasana, hangat dan akrab satu sama lain, maka ia pun dengan mudah dapat mengekspresikan senyum tulus.

Senyuman yang menyejukkan orang lain tanpa harus dikomando, disuruh bahkan dipaksakan. Senyum! Klik!

Waktu

May 15th, 2007 by bunda-athira

Rentang waktu…

terkadang membuat aku lupa

bahwa aku harus semakin dewasa

Rentang waktu…

terkadang membuat aku lupa

bahwa aku tlah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu…

terkadang membuat aku sadar

bahwa aku hanya manusia

yang tak punya apa-apa

selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu…

terkadang membuat aku sadar

bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa

melainkan hati yang ada di dalam dada

dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata

bahwa rentang waktu itu berbeda

tergantung dalam keadaan apa kita berada

Namun Tuhan telah berkata,

“Hanya Aku lah yang tahu umur manusia”

Walau Sekuler Barat berkata

bahwa waktu adalah dollar di dalam kantong

Namun Hasan Al-Banna berkata,

“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”

Waktu…

Alam terus menari dalam simfoninya

Waktu…

Umur manusia didikte olehnya

Waktu…

setiap detaknya

memakukan aku di persimpangan jalan

…jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…

semoga tak melalaikan aku

tuk terus berjalan di jalan-Nya

Persahabatan Menurut Pandangan Imam Syafi’i

May 15th, 2007 by bunda-athira

Imam Syafi’i banyak memberikan pedoman dalam memilih kawan. Beliau juga mengakui sulitnya mencari sahabat sejati yang setia dan selalu bersama, baik di kala suka maupun duka.

Ketika menilai sahabat sejati pada waktu susah, katanya: “Kawan yang tidak dapat dimanfaatkan ketika susah lebih mendekati musuh daripada sebagai kawan."

“Tidak ada yang abadi dan tidak ada kawan yang sejati kecuali yang menolong ketika susah.”

“Sepanjang hidup aku berjuang bersungguh-sungguh mencari sahabat sejati hingga pencarianku melenakanku."

“Kukunjungi seribu negara, namun tidak satu negara pun yang penduduknya berhati manusia.”

Imam Al-Syafi’i turut meminta kita berhati-hati memilih sahabat karena sahabat yang baik akan membawa ke arah kebaikan, begitu juga sebaliknya.

“Banyak orang lain yang dapat menjadi penggantinya. Berpisah dengannya berarti istirahat."

“Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadangkala dibalas dengan sikap tidak sopan."

“Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat karena dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai."

“Dia akan memungkiri jalinan cinta yang terbentuk dan akan menampakkan hal yang dulunya menjadi rahasia.”

"Seseorang itu juga dapat menundukkan musuhnya dengan menunjukkan rasa persahabatan."

Imam Syafi’i dalam hal ini berkata: “Ketika aku menjadi pemaaf dan tidak mempunyai rasa dengki, hatiku lega, jiwaku bebas daripada bara permusuhan."

Sanggup kah aku, ya…ROBB…Yang Maha Membolakbalikkan Hati…?

ini kah KEADILAN ?!

May 14th, 2007 by bunda-athira

What’s your opinion about this TRUE STORY…?

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.

Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak ke hadapan saya. Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.

Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan adzan di tingkat kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Agung, sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah Bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi.

Berita ini rupanya sampai di telinga Agung. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya. "Siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

"Gue, terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Agung pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

"Agung nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala Lapas yang ikut menemani saya mewawancarai Agung sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu, anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Agung menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Agung. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.

Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, Agung selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk Agung. Ia keluar penjara kedua kalinya.

Pelarian ketiganya dilakukan ala Mission Imposible. Agung yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.

Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Agung memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Agung.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya.

Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Agung yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Agung. Hasilnya dua hari kemudian Agung kembali lagi ke Lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

"Ibu kepala Agung minta maaf, tapi Agung kangen sama ibu Agung." Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung di penjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.

Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap Agung) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya Agung itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat.

Inikah yang namanya KEADILAN…?! Inikah cara untuk menSEJAHTERAkan rakyat…?!

From my cousin…dedicated then to all of my "Seniors".

http://bundaathira.multiply.com

April 12th, 2007 by bunda-athira

C I N T A

September 10th, 2005 by bunda-athira

Ketika segala sesuatu di alam raya ini sudah tidak lagi merasakan cinta…

Manusia sendirilah yang mesti termotivasi oleh cinta…

Keunikan dan keunggulan manusia terletak pada kemampuannya mencinta…

Cinta itulah yang menegaskan manusia sebagai manusia…

Kemanusiaan sendiri merupakan nama lain dari cinta…

Oleh karena itu, manusia yang tidak merasakan cinta tidak boleh mengaku manusia…

(IQBAL’s poem, from my Brother someday…for U all 2day…)